By : Cik Zahra

Assalamu’alaikum…semua…
Salam kenal dari saya untuk semua sahabat-sahabat keputrian…Ini kali pertama saya mencoba mengirimkan tulisan di link keputrian. Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat untuk kita semua, terutama para wanita-wanita…Bangga Manjadi Wanita…
Mungkin diantara kita ada yang punya hobi olah raga…ada yang suka main badminton, main tennis, main sepeda, main golf, atau ada yang suka hanya sekedar jalan kaki…dan lain-lain aktivitas yang intinya untuk kesehatan dan mengeluarkan keringat…(kalo makan terus keringatan termasuk olah raga gak ya…???!$).
Nah…dari banyak jenis aktivitas yang tergolong olah raga, saya mau memperkenalkan (untuk yang belum kenal…), beberapa aktivitas olah raga pilihan Rasulullah. Tau gak sich…bahwa dari zaman baheula…kita dah digalakkan…eh…diajurkan, untuk melakukan olah raga fisik yaitu berkuda, memanah, dan berenang. (Lho…kenapa Cuma tiga olah raganya? Memang olah raga yang lain gak dianjurkan..?). eh…tunggu dulu…kita belum liat kelanjutannya….
Ternyata ketiga olah raga ini punya power dan keistimewaan masing-masing. Secara konseptual olah raga itu mencerminkan suatu pola sistematis dalam tahapan kekonsistenan jiwa kita, terus didalamnya juga ada unsur pengendalian emosi dalam proses pengambilan keputusan, selain itu juga melatih kemampuan berbagai rasa (simpati dan empati), dan banyak lagi kesitimewaannya. Seorang ahli pathobiologi mengungkap beberapa keistimewaan dari ketiga oleh raga tersebut. Sekarang kita lihat satu persatu, apa ajah sich ”nilai” yang terdapat dari ketiga olah raga itu…sampai dianjurkan oleh Rasulullah…? simak baik-baik ya…
Berkuda
Untuk olah raga berkuda, disana melibatkan 2 spesies yang berbeda yaitu manusia dan kuda yang pasti. Secara teknis olah raga ini melatih kita untuk mampu melakukan proses komunikasi dengan kendala adanya perbedaan simbol komunikasi yang berbeda dan kemampuan saling memahami. Istimewa gak tuch…gimana coba caranya kita memahami kuda…?
Coba kita analisa sejenak…Kita pasti pernah melihat bagaimana seorang penunggang kuda dengan kuda yang ditungganginya. Cara komunikasi penunggang kuda dengan kudanya menggunakan pola komunikasi instan dengan pendekatan reward dan punishment. Sekilas tampak bahwa manusia yang merasa superior dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya, terkadang menganggap kuda yang ditunggangi sebagai makhluk bodoh yang akan bekerjasama dengan sekedar hadiah bagi perilaku kooperatifnya dan hukuman (cambuk) bagi perilaku defensifnya (kasian banget tu kuda….). Eits…tapi jangan salah…dari sana ada hikmah yang bisa kita ambil, bahwa terdapat pola komunikasi antar makhluk dari aktifitas berkuda, yaitu adanya kemauan dan kemampuan untuk membina komunikasi / silaturahmi yang tulus dan bebas kepentingan diantara sesama makhluk, tanpa motif manipulatif. Penunggang kuda sebagai makhluk yang diberikan potensi melebihi kuda yang ditungganginya tidak berarti dia berada dalam tataran penakluk (conqueror), melainkan dia berlaku sebagai seorang pengayom agar komunikasi antara kuda dengan penungganya menjadi harmonis. (Tu….betul kan…hayo…mau pilih jadi penakluk atau jadi pengayom….??)
Keharmonisan komunikasi menuntut adanya kemauan untuk saling mengenal dan memahami. Bila kita berhadapan dengan kuda jangan harap kita akan banyak berbicara dengan kuda untuk bisa saling memahami (nanti dikira sodaranya kuda lagi…heheh). Disini kita perlu merubah cara pandang kita yang secara naluriah selalu berorientasi egosentrisme atau berbicara untuk kepentingan diri sendiri (hem…….).
Kemauan untuk memahami mengharuskan kita belajar untuk melihat dari sudut pandang pihak yang ingin di pahami dan ingin dikenal. (Kuda….betapa berharganya makhluk itu…..). Keharmonisan komunikasi juga akan melahirkan koordinasi yang baik. Dalam olah raga berkuda koordinasi yang baik antara manusia dan kudanya akan menghasilkan satu sinergi keserasian, keakuratan gerak, ketepatan momen, dan kecepatan yang optimal.
Memanah
Kalau berkuda tadi manusia berinteraksi dengan hewan, memanah berarti manusia berinteraksi dengan benda mati, yaitu busur dan anak panah. Apa lagi ya…nilai yang terdapat dari olah raga ini…? Mau tau jawabannya…?
Memanah akan melatih dan mempertajam keakurasian, kecepatan tindakan dan sekali lagi koordinasi. Untuk membidik sasaran yang tepat diperlukan kejelian dalam menyaring informasi berupa jenis dan jarak sasaran, ukuran yang sebenarnya, arah angin, jenis tali busur, berat anak panah dan sebagainya.
Ini memerlukan kemampuan kita untuk mengakses informasi seluas-luasnya serta menapisnya menjadi informasi yang sebenar-benarnya, karena tidak semua informasi berharga (betul gak….?). Selain itu juga ketika kita membidik sasaran kita mesti fokus, kita dituntut untuk mencurahkan perhatian pada hala-hal yang secara teoritik mampu kita kuasai dan memiliki kegunaan (percuma tau banyak hal…tetapi menguasai sedikit kemampuan…). Penguasaan informasi merupakan kunci ketepatan perubahan, sebagaimana ketepatan bidikan anak panah… (dengan kita menguasai informasi yang memiliki kegunaan, maka kita bisa menjadi agent of changing).
Sinergi potensi, kesabaran, konsistensi, ketenangan dan kemampuan meredam iming-iming keuntungan pribadi adalah tahap yang paling penting dalam proses peluncuran anak panah. Detail-detail posisi kaki, jarak rentang busur, koordinasi antara mata-otak-otot lengan dan tumpuan kaki adalah kunci keberhasilan tembakan.
Nilai dalam olah raga memanah dapat ditererapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks berlatih menyaring informasi, mengolah, menyusun rencana pencapaian sasaran, dan melaksanakan rencana dengan sabar, kreatif, dan konsisten.
Berenang
Kebanyakan orang lebih suka berenang. Karena olah raga ini lebih mudah terjangkau. Renang adalah satu jenis olah raga yang menempatkan manusia dalam medium yang tidak kondusif dengan sifat biologisnya. Kita dilatih untuk survive dengan mengoptimalkan kemampuan koordinatif terhadap organ juga dapat mengatasi rasa takut, terutama rasa takut terhadap kematian.
Renang melatih manusia untuk berani beradaptasi dengan suatu dunia yang baru, lingkungan yang mungkin bisa membahayakan. Proses renang mengajari manusia mensinergikan potensinya dan kemampuan koordinatifnya untuk menyelamatkan kepentingan hidupnya. Kondisi ini akan membuat manusia lebih tabah dan siap, untuk masuk ke dalam lingkungan yang asing yang tidak di kenal dalam siklus kehidupan.
Renang mengajari kita untuk mensyukuri nikmat atas kemampuan kita mengkoordinasikan anggota gerak dan organ pernafasan. Syukur atas suhu air yang dingin yang menyejukkan dan menyenangkan. Renang mengajari kita untuk tahu batas kemampuan diri dan tidak berlebihan.
Sekuat-kuatnya seorang perenang, harus mampu memperhitungkan cadangan tenaga dan kemampuan adaptasinya, jika tidak, kita bisa mengalami keram otot yang berakibat fatal. Perenang juga harus tahu waktu. Jika terlalu lama dalam air, maka kita bisa mengalami hipotermia atau penurunan suhu tubuh secara drastis (betul gak…?).
Nah….Itu dia beberapa analisa dan alasan kenapa berkuda, memanah, dan berenang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Ini hasil analisa seorang ahli pathobiologis yang bernama Tauhid Nur Azhar lho…bermanfaat kan? Tapi bukan berarti olah raga yang lain tidak punya power dan keistimewaa. Semua bergantung pada kepekaan kita dalam menganalisa sesuatu secara lebih mendalam…
Hayooo…manfaatkan kesempatan selagi ada…latih diri dengan Olah Raga…
Sumber :
Dari buku kecil yang istimewa, ditulis oleh Tauhid Nur Azhar. Diterbitkan oleh Ummu Safanah Publisher, Bandung.